Seratus Tahun Lalu, Kini Tiba Lagi: Pidato Ketua Umum pada Peringatan Kebangkitan Nasional 2008 Yogjakarta
Seratus Tahun Lalu, Kini Tiba Lagi
Satu dekade sudah bangsa ini membulatkan tekad untuk bangkit
Bangkit dari kepapaan dan kehinaan
Bangkit dari kebodohan dan kejumudan
Bangkit dari tanpa harapan menjadi keniscayaan
Bangkit untuk menentukan nasibnya sendiri
Kini, kita sudah merasakan dan menikmati kebangkitan yang digagas sembilan orang Boedi Oetomo
Jangan biarkan niat dan tekad mereka sirna begitu saja tanpa makna. Kita berdosa bila mengabaikan cita-cita mulia mereka
Seratus tahun sudah cita-cita itu berlalu
Sudah semestinya kita senantiasa menghargai perjuangan para pendiri bangsa ini yang telah rela berkorban untuk kita, anak cucunya
Menghargai dengan perbuatan
Semua elemen bangsa harus bangkit bersama
Tidak hanya dengan kata-kata
Hari ini, sudah satu abad kebangkitan bangsa
Bangsa ini bangsa besar. Tanah airnya kaya raya. Bangsa ini telah memberikan segalanya buat kita
Saatnya kita berterimakasih pada tanah tumpah darah ini. Berterimakasih dengan perbuatan.
Kita yang hadir bersama disini bertekad untuk memberikan yang terbaik buat bangsa. Apa saja yang kita bisa.
Bila kita semua berbuat sekarang,
Martabat dan kemuliaan bangsa akan ada pada jiwa rakyat Indonesia.
Dan generasi kelak akan mengenang bahwa kita telah melakukan perbuatan mulia, bukan sebaliknya
Seratus tahun jiwa bangkit sudah merasuk dan mendarah daging dalam bangsa ini
Kita lahir dan hidup di bumi nusantara ini
Bumi yang mampu menyejahterakan penduduknya
Bumi yang mampu mengantar putra-putrinya sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia
Bumi yang melahirkan pahlawan-pahlawan pendiri Indonesia
Namun sayang, hanya saja karena salah kelola
Yang ada rakyat makin sengsara
Kata putus asa ada dimana-mana diseluruh pelosok negeri
Keramahan berubah menjadi kecurigaan
Kemakmuran berubah menjadi kenistaan
Harapan berubah keputusasaan
Martabat berubah menjadi melarat
Pemberi berubah menjadi pengantri
Akankan kita mendiamkan keadaan ini berlarut dan tidak berbuat. Rasanya tidak tega melihat senyum tulus anak-anak kita, senyum keceriaan, senyum keikhlasan
Jangan sampai kita semua yang hadir disini dicap oleh anak cucu kita sebagai pengkhianat bangsa, karena tak mampu memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita sederhana mereka
Cita-cita untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Sebagaimana seratus tahun lalu boedi oetomo telah memperjuangkan untuk kita
Saatnya kita berbuat untuk anak cucu kita Dengan perbuatan mulia semampu kita
Siapa saja
Dan saat ini juga
Salam kebangkitan!
Yogjakarta, 20 Mei 2008
- Add new comment
- 546 reads

caleg PAN MUSI RAWAS
buat pa sutrisno bahir....
saya adlah kader setia pan
orang tua saya adalah funsionaris yang ikut membesarkan partai amanat nasional
perna jd anggota dewan priode 1999-2004 musi rawas, sum-sel, waktu pemilu 2004 ayah saya mendapatkan suara terbanyak di dapil 2 musirawas,tp karena kecurangan dan tumpang tindih aturan internal partai ayah saya tidak bisa duduk menjadi anggota legislatif(padahal sebelum pemilu DPP PAN pernah mengeluarkan aturan bahwa caleg dr pan ditentukan oleh suara terbanyak bukan nomer urut bahkan pada DPD PAN musi rawas dibuat semacam perjanjian yang dibuat dihadapan notaris yang menyatakan bahwa caleg dr PAN musirawas ditentukan dr suara terbanyak bukan dr nomer urut.dan alangkah kecewanya kami bukan hanya kmi sebenarnya tp ribuan rakyat yang memilih kecewa karena setelah penetapan anggota legislatif PAN seolah2 tutup mata dan menetapkan anggota legislatip melalui nomer urut.
disini saya tidak mencari pembenaran tp apakah PAN partai yang ikut kami besarkan meninggalkan kami begitu saja, sampai2 orang tua saya dikeluarkan dr kepengurusan pan,.dimana letak keadilan.
pak sutrisno bachir klo anda tidak dapat menjembatani, memberi solusi terbaik bagi kader anda maka PAN akan tinggal nama kader2 anda akan beralih kepartai lain.
kehilangan satu orang seperti orang tua saya berarti PAN kehilangan ribuan suara, dan kasus seperti ini tidak hanya trjadi ditempat saya banyak daerah2 lain yang mengalami hal yang serupa.
terima kasih atas perhatiannya
muhammad.